28 Feb PELANGI SUMUT

Sharing is caring!

Relawan DJOSS - Relawan Duta Djarot-Sihar pelangi sumut - PELANGI SUMUT

Selama kurang lebih 20 tahun lahir dan hidup di sini, Sumatera Utara telah mendarah daging di dalam sanubari saya. Meski, bukan merupakan suku asli provinsi ini, ayah saya keturunan Ambon-Cina dan ibu saya keturunan Jawa, saya tidak pernah merasa dianaktirikan di provinsi ini.

Sumatera Utara memang kaya akan suku, etnis, agama dan budaya. Terbukti, dalam beberapa fase kehidupan saya, saya memiliki teman yang berasal dari suku, etnis, dan agama yang berbeda. Di masa SD teman dekat saya berasal dari suku Karo, Batak Toba, dan India Tamil. Beranjak ke SMP teman dekat saya berasal dari Batak Simalungun dan Karo. Saat SMA, etnis Tionghoa merupakan mayoritas teman-teman saya. Di masa perkuliahan ini, teman dekat saya berasal dari Melayu dan yang lain Jawa. Satupun dari mereka tidak pernah menanyakan suku saya dan agama saya saat mereka hendak bergaul dengan saya.

Pada dunia organisasi pun, tak pernah sekalipun saya diasingkan dan tidak diterima karena etnis saya yang berbeda. Memang tidak pernah dalam sejarah kehidupan saya di Sumatera Utara, khususnya Medan, saya menjadi mayoritas dalam sebuah kelompok, karena pada dasarnya saya adalah pendatang. Namun, tidak pernah seorang pun merendahkan saya karena saya berbeda, menolak saya karena saya bukan asli Sumut.

Hal inilah yang membuat saya bangga menjadi bagian dari Sumut, bila di daerah lain terjadi saling serang akibat isu SARA, di Sumut, keberagaman menjadi sebuah keindahan. Memasuki tahun politik ini, saya tetap optimis masyarakat Sumut dapat menjaga keharmonisan nya meski hidup dalam masyarakat yang beragam.

Terlebih, berkaca dari pengalaman Pilkada DKI Jakarta yang lalu, saya berharap hal tersebut tidak berulang di Sumut. Saya percaya bahwa masyarakat Sumut jauh lebih cerdas dalam menentukan pilihan. Ada dua pasangan calon yang maju dalam Pilgub Sumut 2018 ini, masing-masing-masing memiliki latar belakang yang berbeda baik dari segi suku, etnis, maupun agama.

Saya harap, sebagaimana sahabat-sahabat dekat saya di Sumut selama ini menerima saya yang berbeda ini, begitu juga masyarakat Sumut dalam memilih pemimpin. Bukan karena etnis, suku, maupun agama saya melainkan perlakuan saya kepada teman-teman saya. Bagaimana kualitas, sepak terjang, dan kemampuannya dalam memimpin Sumut ke arah yang lebih baik, hendaknya hal itulah yang dijadikan kualifikasi dalam memilih Paslon nantinya.

Tidak ada perpecahan dalam Pilgub Sumut kali ini, kita bukan Batak, Jawa, India, Melayu, Tionghoa, Karo, Islam, Hindu, Muslim, kita Sumatera Utara, kita Indonesia.

Salam hangat.

Fiona Matullessya

Original Source: https://www.djoss.id/2018/02/28/pelangi-sumut/

Sharing is caring!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *