01 Mar Ngaku Relawan Kok Nyebar Hoax?

Sharing is caring!

Relawan DJOSS - Relawan Duta Djarot-Sihar ngaku relawan kok nyebar hoax - Ngaku Relawan Kok Nyebar Hoax?Sebenarnya rada malas menjawab kenyinyiran orang bahwa apa yang saya lakukan menulis, berbicara di depan ratusan orang dan berpihak pada Djarot Sihar karena dapat bayaran.

Dapat uang gede lalu menulis dan bicara sehebat mungkin tentang Djarot-Sihar. Dapat fulus turun ke Sumut bak pemain sepakbola profesional bayaran. Sekali main dapat milyaran.

Penilaian ini menurutku sejatinya gambaran si nyinyir itu sendiri. Timbangannya selalu uang. Ukurannya selalu materi.

Menurut kaum disorientasi hidup ini segalanya diukur dari uang. Jika tidak dapat uang bisa juga dalam bentuk bagi-bagi proyek. Si nyinyir gundul ini memang hidupnya suuzon dan bikin fitnah hoax. Beda tipis sama MCAlah.

Saya teringat dengan pilkada Provinsi Kepri 2015. Saat itu saya bersama teman-teman berada pada barisan memenangkan H.M Sani yang sudah sepuh.

Bulan September 2015 survei menempatkan elektabilitasnya hanya separuh dari hasil survei lawannya. Semua orang se-Kepri tahu siapa bakal menang. Tak mungkin H.M Sani. Faktor umur dan finansial yang ngos ngosan jadi kendala utama.

Namun saya meyakini politik adalah seni mengelola kemungkinan menjadi kemenangan. Perlahan tapi pasti elektabilitas H.M Sani naik.

Tagline “Sani Ayah Kita” yang saya cetuskan menjadi kata sakti merasuk ke relung hati warga. Konsistensi dengan gebrakan ide segar, determinasi kuat, percaya diri, fokus dan berani bertarung dalam kondisi apapun menjadi kunci memenangkan pertarungan.

Relawan DJOSS - Relawan Duta Djarot-Sihar ngaku relawan kok nyebar hoax 1 - Ngaku Relawan Kok Nyebar Hoax?

Hingga pada puncaknya saat hari pencoblosan H.M Sani unggul 6 persen dari lawannya. Dalam perjuangan memenangkan orang baik ini lagi lagi saya dan teman-teman menjadi ujung tombak dan ujung tombok.

Kami mengongkosi pergerakan kampanye. Sepeserpun tidak ada uang saku atau uang diberikan. Malah uang keluar dari dompet sendiri. Belum lagi waktu, pikiran, tenaga dan risiko politik. Apa yang dapat dari calon yang jujur dan sederhana? Gak ada sama sekali.

Bagi saya, perjuangan atas nilai yang saya yakini adalah bagian dari ikhtiar pikiran untuk membebaskan negeri ini dari ketidakadilan dan kepemimpinan yang serakah bin korup.

Nilai karakter seorang pemimpin baik itu menjadi prasyarat buat saya untuk mendukungnya. Ayah Sani masuk dalam kriteria itu. Ia jujur, bersih, baik dan pekerja keras meski usianya sudah lanjut.

Apa yang saya dapatkan dari perjuangan itu? Jika nilai materi ya tidak ada. Malah banyak keluar uang pribadiku sendiri. Namun saat Ayah Sani memberikan Tanjak ( penutup kepala khas Melayu ) dan menganggap saya sudah seperti anaknya sendiri, disitulah saya merasa berarti bagi kebaikan dan manfaat bagi orang banyak.

Sayang, malang tak dapat ditolak mujur tak dapat diraih, Ayah Sani saat bertugas di Jakarta meninggal dunia. Hanya 50 hari Ia menjabat Gubernur Kepri.

Namun saya percaya bahwa semua yang terjadi di kolong langit ini adalah atas kehendak Ilahi. Yang bisa kita lakukan hanya berjuang sekeras kerasnya tanpa pernah berhenti sebelum pertandingan usai.

Perjuangan saya membela Ahok juga hampir sama dengan pembelaanku terhadap Ayah Sani di Kepri. Apakah dapat uang atas kerja politik ini? Nehi. Tidak.

Kalo ada relawan turun dibantu Ahok-Djarot itu artinya Ahok-Djarot lagi kesambet makhluk halus. Semua relawan bergerak mandiri, swadaya sendiri. Bahkan uang keluar banyak dari kantong sendiri. Belum lagi waktu, pikiran, tenaga, risiko politik dan lainnya.

Jika orientasi uang jadi tujuan saya, mungkin berada pada Agus atau Sandi jalan yang tepat. Coba tanya pada semua relawan Ahok-Djarot sepeser dibelah tujuh juga kagak dapat. Boro-boro dapat duit, baju kotak-kotak juga beli sendiri.

Demikian juga pada Pilkada Sumut ini, masuk jadi tim sukses Eramas lebih bergizi dan terawat. Masuk menjadi relawan Djarot Sihar kamu harus tahu yang kamu menangkan itu bukan mereka tapi mimpi kamu pada Sumut yang lebih baik. Mewujudkan mimpimu tentang Sumut ya bantulah Djarot Sihar menang. Simpel.

Tapi apa yang saya kerjakan ini bagiku biasa-biasa saja. Belum ada apa-apanya dibanding dengan cinta tanah air pendiri republik ini saat berikhtiar ingin membebaskan bangsanya dari penjajahan dan kebodohan.

Bukan kali ini saja. Sejak 2009 juga sudah aktif membela orang yang sedang mencari keadilan. Orang susah menderita. Hingga terakhir kasus Debora, Jessica dan Chika. Semua free bahkan keluar uang dari kocek sendiri.

Silahkan tanya pada orang2 yang saya bantu. Saya juga aktif keliling Indonesia bicara kebangsaan dan kebhinekaan di banyak kota.

Nilai-nilai itulah yang kupegang teguh. Saya percaya memenangkan orang benar dan baik menjadi pemimpin sejatinya membuat hidup kita bermanfaat bagi kebaikan umum. Menyuarakan keIndonesiaan kita itu penting. Sepenting menjaga keluarga kita.

Tidak ada gunanya kita membangun istana megah jika negeri ini perang saudara porak poranda. Salah satu prasyarat agar negeri ini terus berdiri adalah kita harus pastikan dapat pemimpin hebat dan baik.

Jadi mengapa saya berada pada barisan pendukung Ahok itu karena akal sehat dan nilai yang kuyakini hanya pada Ahok dan Djarot cita cita, impian dan harapan akan Jakarta Baru yang bersih, transparan dan profesional dalam melayani warga Jakarta bisa terwujud.

Sejauh ini, apakah Ahok mengenal saya? Tidak. Sama sekali tidak. Apakah saya peduli dengan itu? Tidak sama sekali. Dikenal Ahok atau tidak, tidak ada gunanya juga jika dalam benakmu berharap timbal balik dengannya apakah dalam bentuk imbal proyek atau lainnya.

Berharap sesuatu dari Ahok sama saja seperti berharap Raja Salman mengundang Riziek Shihab makan malam spesial sebagai tamu kehormatan. Impossible.

Tujuh belas kali bertemu Ahok dalam banyak kesempatan, 34 kali Ahok tidak mengenal saya. Diacuhkan malah. Sejauh ini saya fun fun saja. Apakah setelah Ahok kalah saya tinggalkan dia? Ndalalah. Kalo orang mau kerja politik karena barter dengan iming2 posisi atau uang, maka sejatinya begitu Ahok kalah kerja politik itu selesai. Bubar jalan.

Apakah saya mundur? Tidak. Malah lebih powerful lagi berjuang membela penzoliman dirinya dari penghakiman yang tidak adil. Mengorganisasi relawan militan dengan 8000 mawar merah putih sebagai simbol cinta dan harapan di depan pengadilan. Hingga long march bersama ratusan relawan dari Ragunan ke Lapas Cipinang mendesak agar Ahok menjadi tahanan kota.

Sesampai di Cipinang bersama puluhan ribu relawan bertahan di Lapas Cipinang sampai tengah malam buta. Esoknya lanjut aksi di Pengadilan Tinggi sampai pukul 4 pagi. Dorong-dorongan dengan aparat. Berkejar kejaran. Sembunyi. Muncul lagi. Terus menerus hingga kini. Tak surut, tak lekang.

Apakah dibayar? Kalau nyawa taruhannya untuk bertarung dijalanan dengan mereka yang radikal lha kamu si nyinyir busuk sanggup bayar berapa? Mau bayar pake sempak kamu yang bolong itu?

Nah, Pilkada serentak kali ini saya juga turun untuk memotivasi gerakan relawan. Turun berbicara memberikan spirit energi kepada simpul-simpul relawan. Saya bicara di depan relawan milenial Kawan Djarot Sihar yang dikomandani Merryl seminggu lalu. Apakah dibayar? Tidak. Sepeserpun tidak. Fine-fine saja. Saya senang berbagi pengalaman dan pikiran.

Selepas bicara di Relawan Milenial Kawan Djarot Sihar, saya bicara bersama Eko Kunthadi di dekat kampus USU bersama seratusan orang mahasiswa soal Djarot Sihar sebagai pemimpin penuh harapan.

Apakah dapat bayaran? Tidak. Malah nombok dan ikut ngongkosi. Silahkan tanya pada Zubel, Harapan Yulius Ltoruan, Frans Pandiangan dari Djas Genta.

Sering kali kepicikan dan cermin sempit dari orang nyinyir gundul ini suka menyebar isu agar dirinya dan kelompoknya yang mendominasi. Kerjanya tidak ada. Tidak melakukan apa2 tapi sirik, dengki dan culasnya melebihi tikus busuk kelaparan. Kerjanya buat isu, fitnah sana sini.

Repotnya orang bergenetika belatung ini tak punya rasa malu. Begitulah selalu negeri ini penuh manusia belatung yang terus memproduksi hoax dan fitnah.

So..buat kamu yang ngaku relawan tapi kerjanya hoax mulu, yang selalu berpikir tentang uang, belajarlah pada sejarah. Hidup ini bukan sekedar materi. Ada yang lebih penting atas nilai itu.

Pahamkan? Salam Perjuangan Penuh Cinta

Birgaldo Sinaga

Sumber : Facebook

Original Source: https://www.djoss.id/ngaku-relawan-kok-nyebar-hoax/

Sharing is caring!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *