Sharing is caring!

Djarot Saiful Hidayat dilahirkan di Magelang, pada tanggal 6 Juli 1962, merupakan putra keempat dari Bapak M. Thoyib dan Ibu Aliyah, keluarga pensiunan militer dari detasemen perhubungan.

Relawan DJOSS - Relawan Duta Djarot-Sihar Djarot Saiful Hidayat - Profil Djarot Saiful Hidayat

Djarot Saiful Hidayat Cagubsu dengan Segudang Prestasi

Djarot tumbuh dan menghabiskan masa kecil sampai remajanya di Kota Surabaya, Jawa Timur dan mengenyam pendidikan formal di SD Raden Saleh Surabaya dan SMP Negeri 4 Surabaya. Lalu, melanjutkan pendidikan menengah atas di SMA Taruna Nusa Harapan, Mojokerto dan menempuh pendidikan tinggi S1 di Fakultas Ilmu Administrasi, Universitas Brawijaya, Malang dan kemudian melanjutkan pendidikan ke jenjang S2 Ilmu Politik di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Sejak mahasiswa, Djarot telah aktif berorganisasi dan memilih Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) sebagai wadah untuk mengaktualisasikan dirinya, hingga keseriusannya berorganisasi mengantarkannya terpilih sebagai Ketua DPC GMNI Malang.

Selepas tamat dari Universitas Brawijaya, Djarot memulai karirnya sebagai Dosen di Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Tujuh Belas Agustus, Surabaya. Karir Djarot sebagai staf pengajar di salah satu Perguruan Tinggi swasta terbaik di Jawa Timur ini terbilang cukup lengkap, terbukti dengan terpilihnya Djarot sebagai Pembantu Dekan, Dekan, dan kemudian Pembantu Rektor di universitas yang sama.

Track-Record (Rekam Jejak) Djarot Sebagai Pejabat Publik

Pasca reformasi, Djarot tergerak untuk terjun ke dunia Politik dan mendafarkan dirinya sebagai Calon Anggota Legislatif pada Pemilu tahun 1999 dari Partai PDI Perjuangan untuk DPRD Provinsi Jawa Timur. Djarot terpilih, dan dipercaya sebagai salah satu Ketua Komisi. Setahun kemudian, Djarot dicalonkan sebagai Walikota Blitar dan terpilih menjadi Walikota, dipercaya oleh masyarakat Blitar selama 2 periode berturut-turut, dari tahun 2000-2010.

Djarot Sebagai Walikota Blitar

Selama menjabat sebagai Walikota Blitar, Djarot berhasil membawa perubahan yang sangat signifikan bagi pembenahan birokrasi di Kota Blitar dan peningkatan kesejahteraan masyarakatnya.

Relawan DJOSS - Relawan Duta Djarot-Sihar Prestasi Djarot sebagai Walikota Blitar - Profil Djarot Saiful Hidayat

Prestasi Djarot sebagai Walikota Blitar

Di awal masa jabatannya, Djarot langsung membuat kebijakan yang tidak lazim, yaitu memperpanjang usia pensiun pejabat dan posisi jabatan yang tidak efektif dibiarkannya kosong. Bahkan proses seleksi untuk menentukan jabatan dilakukannya tanpa campur tangan Pemerintah Kota Blitar, dengan menyerahkan seluruh proses rekrutmen pejabat daerah ke tim ahli dari Universitas Airlangga, Surbaya. Selain itu, Djarot juga memangkas lebih dari 200 jabatan eselon II-IV yang menurutnya tidak efektif.

Selain reformasi birokrasi, Djarot juga dikenal sebagai Kepala Daerah yang suka blusukan, sehingga dapat berkomunikasi secara langsung dengan masyarakat Kota Blitar. Djarot rutin turun ke bawah sebanyak dua kali dalam seminggu, meninggalkan mobil dinas, bersepeda pancal untuk menyerap aspirasi dengan tukang becak dan bakul pasar.

Selama sepuluh tahun dipimpin oleh Djarot, pendapatan asli daerah Kota Blitar yang memiliki luas hanya 32,58 kilometer persegi mengalami peningkatan yang sangat signifikan. Sebelum tahun 2000, PAD Kota Blitar tercatat hanya sekitar Rp 2,5 miliar. Sembilan tahun kemudian, setahun sebelum Djarot purna bakti sebagai Walikota Blitar, PAD-nya melonjak menjadi Rp 39,86 miliar.

Pembangunan Kota Blitar pun turut tumbuh dan berkembang, dimana Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kota Blitar dari Rp 38,625 miliar naik menjadi Rp 387 miliar. Bahkan, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) warga Blitar turut terkeret sekitar sembilan poin, dari 68,9 pada tahun 2000 menjadi 77,12 di tahun 2009. Pencapaian itu merupakan yang tertinggi di Provinsi Jawa Timur pada tahun 2009.

Melihat berbagai pencapaian tersebut, wajar saja jika Djarot diganjar berbagai penghargaan selama menjabat sebagai Walikota Blitar, beberapa diantaranya adalah:

  1. Penghargaan Komite Pemantauan Pelaksanaan Otonomi Daerah, tahun 2008
  2. Penghargaan Terbaik Citizen’s Charmer Bidang Kesehatan, Anugerah Adipura, tahun 2006, 2007, 2008
  3. Penghargaan atas terobosan inovasi daerah se-Provinsi Jawa Timur didalam pembangunan daerahnya, tahun 2008
  4. Penghargaan Upakarti, tahun 2008
  5. Penghargaan Salah Satu Kepala Daerah Terbaik versi Majalah Tempo, tahun 2008
  6. Peringkat Pertama dalam penerapan E-Government di Jawa Timur, tahun 2010

Selesai menjabat sebagai Walikota Blitar, Djarot kembali berorganisasi dan menjabat sebagai Ketua Persatuan Alumni GMNI Jawa Timur pada tahun 2010. Langkah cerdik cendekia ini dilakukan Djarot sembari mempersiapkan rencana untuk maju sebagai Calon Anggota Legislatif DPR RI pada pemilu tahun 2014, dimana Djarot terpilih dan ditetapkan sebagai Legislator, walupun jabatan tersebut hanya diembannya sebentar saja, karena diutus oleh Partainya mengisi posisi Wakil Gubernur DKI Jakarta, setelah Jokowi terpilih sebagai Presiden dan posisinya digantikan oleh Basuki Tjahaya Purnama (Ahok) sebagai Gubernur DKI Jakarta.

Djarot Sebagai Wakil Gubernur DKI Jakarta

Djarot Saiful Hidayat dipilih oleh Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama sebagai wakil gubernur yang mendampinginya hingga 2017. Djarot menyingkirkan nama-nama lain yang sempat beredar luas yaitu Ketua Tim Gubernur Untuk Percepatan Pembangunan DKI Jakarta (TGUPP) Sarwo Handayani, Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta 2009-2014 Boy Sadikin, serta Wali Kota Surabaya 2002-2010 Bambang Dwi Hartono. Djarot dilantik sebagai wakil gubernur pada 17 Desember 2014 di Gedung Balai Agung, Balai Kota DKI Jakarta secara langsung oleh Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama.

Djarot Sebagai Gubernur DKI Jakarta

Djarot Saiful Hidayat diangkat oleh Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo sebagai Pelaksana Tugas Gubernur DKI Jakarta pada 9 Mei 2017 setelah Pengadilan Negeri Jakarta Utara menjatuhkan vonis 2 tahun penjara kepada Basuki Tjahaja Purnama terkait kasus penodaan agama.

Pada 31 Mei 2017, DPRD DKI Jakarta mengumumkan Djarot sebagai Gubernur DKI Jakarta menggantikan Basuki Tjahaja Purnama yang mengajukan pengunduran diri sebagai Gubernur setelah menjalani proses penahanan dan menyatakan mencabut gugatan banding terkait kasus penodaan agama yang dialaminya. Djarot Saiful Hidayat akhirnya resmi dilantik sebagai Gubernur DKI Jakarta oleh Presiden Jokowi pada 15 Juni 2017 di Istana Negara.

Pernyataan Djarot

Pada 24 Juli 2017, Djarot sebagai Gubernur DKI Jakarta mengusulkan agar Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang memiliki keterkaitan dengan organisasi anti-Pancasila seperti Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) dicabut kewarganegarannya. Pernyataan ini menyusul himbauan pemerintah melalui Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo agar PNS yang kader HTI untuk mengundurkan diri atau dipecat jika tetap memilih HTI.

Hal ini membuktikan bahwa Djarot adalah pribadi Islam yang sangat moderat, cinta NKRI, Pancasila, UUD 1945 dan Bhineka Tunggal Ika.

*Disarikan dari berbagai sumber

Sharing is caring!